Senin, 28 April 2014

Laporan praktikum Dasar-Dasar Ekologi Salinitas Sebagai Faktor Pembatas Abiotik


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
DASAR-DASAR EKOLOGI
ACARA I
SALINITAS SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK


index.jpg

Disusun oleh:
Nama                          : Suci Febryani
NIM                            : 13/346040/PN/13140
Golongan/kelompok   : A1/1
Asisten                        : Ahmad Khoirudin Asrifi
                                      M.R Ali Fikri
                                      Seilana Kusumawati

LABORATORIUM EKOLOGI TANAMAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014














ACARA I
SALINITAS SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK

I.                   TUJUAN
1.      Mengetahui dampak salinitas terhadap pertumbuhan tanaman
2.      Mengetahui tanggapan beberapa macam tanaman terhadap tingkat salinitas yang berbeda.

II.                TINJAUAN PUSTAKA
                   Menurut syakir et al., (2008), salinitas merupakan suatu keadaan dimana garam dapat larut dalam jumlah yang srdikit ataupun dalam jumlah yang banyak. Jika garam yang larut terlalu banyak, akan berakibat buruk bagi pertumbuhan tanaman. Selain natrium klorida ( garam ) yang dibutuhkan tanaman, tanaman juga membutuhhkan asupan zat-zat lain seperti sulfur, bikarbonat dari natrium, magnesium, yang mana zat-zat tersebut memiliki efek yang berbeda-beda terhadap pertumbuhan tanaman. Tanaman membutuhkan garam dapur ( NaCl ) untuk menggantikan sebahagian kalium yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan maksimum, karena garam tersebut merupakan senyawa yang mengandung unsur natrium yang menrupakan unsur hara mikro esensial bagi tanaman.
              Selain berpengaruh kepada pertumbuhantanaman secara keseluruhan, garam juga berpengaruh kepada kandungn klorofil pada daun tanaman. Klorofil diserap oleh tanman dalam bentuk  Cl- dimana Cl- tersebut merupakan unsur hara mikro yang dibutuhkan oleh tanaman dalam proses fotosintesis. Zat garam tersebut masuk ke dalam daun melalui proses osmosis, dimana zat garam tersebut masuk ke dalam sel tanaman karena adanya tekanan dari dalam tanah yang mengakibatkan zat garam masuk ke sel tanaman melalui perakaran tanaman tersebut (Novizan,2002). Hal tersebut dibuktikan oleh Syakrir et al., (2002) daun tanaman kacang Pissum sativum.L menjadi menggulung  dan berwarna kuning karena kadar salinitas yang tinggi. Salinitas juga mempengaruhi terhadap peningkatan kadar NaCl dalam tanah di sekitar tumbuhnya kacang tersebut, serta bertambahnya sintesa protein di dalam jaringan tanaman kacang tersebut.
              Tanaman yang tumbuh pada daerah yang memiliki kadar salinitas yang tinggi, bisa menyebabkan efek beracun pada metabolisme tanaman tersebut. Pada tanaman jagung, padi dan gandum lebih sensitisf terhadap salinitas selama perkecambahan benih (James et al., 1983 cit. Begum et al., 2010 ). Apabila salinitas pada suatu tempat terlalu tinggi, maka tanaman yang hidup akan mengalami keracunan tumbuhan, jika salinitas pada suatu tempat terlalu rendah, maka tanaman yang hidup di tempat tersebut akan mengalami hambatan untuk tumbuh. Tetapi jika pemberian kadar garam ke tanaman sesuai dengan dengan kebutuhan tanaman, maka akan menghasilkan produksi yang banyak dan memiliki luas permukaan daun yang normal (Kurniasih et al., 2004 ).
              Kekeringan dan salinitas merupakan faktor pembatas utama yang dapat mengurangi produktifitas suatu tanaman. Salinitas juga dapat menghambat perkecambahan, mengurangi pertumbuhan tunas, memperlambat perkembangan tanaman, dan mengurangi hasil penen. Tanaman yang tumbuh  pada daerah dengan tingkat salinitas yang tinggi memiliki komposisi ion dengan konsentrasi yang cendrung berbeda-beda. Perbedaan konsentrasi tersebut disebabkan oeh beberapa faktor seperti sumber air, drinose, evaporasi, transpirasi, dan juga kemampuan pengendapan pada tanah ( Jamil, 2006 ). Adapun faktor-faktor yang memicuterjadinya salinitas adalah tingginya kadar garam dalam air, iklim yang mendukung akumulasi, kegiatan manusia seperti pembakaran hutan dan lahan, kondisi jlan yang ditutupi oleh es, lanskap fitur yang memungkinkan untuk menjadi garam. Salinitas biasanya terjdi pada daerah pinggiran laut atau pesisisr pantai, yaitu pada lahan rawa pasang srut ( Suwignyo, 2003). Peningkatan permukaan air laut akan menyebabkan terjadinya peningkatan salinitas air air yang kemudian berpengaruh kepada sistem pola tanaman di daerah tersebut. Akumulasi garam dapat terjadi karena adanya pergerakan dan penguapan air dari permukaan tanah, sehingga garam tertinggal di tanah kerena adanya proses evaporasi (Gratton, 2005).
             







III.      METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
                   Praktikum Dasar – Dasar Ekologi acara I yang berjudul Salinitas sebagai Faktor Peembatas Abiotik dilaksanakan di Laboratorium Ekolologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Praktikum ini dilaksanakan pada Hari Senin, 9 Maret  2014. Alat – alat yang digunakan pada praktikum ini adalah timbangan analitik, gelas ukur, erlenmmeyer, alat pengaduk, peralatan tanam, penggaris, kertas label,  polibag dan bahan-bahan yang digunakan adalah benih tanam yaitu padi ( Oryza sativa ), kacang tunggak ( Vigna sinensis ), timun ( Cucumis melo L.), NaCl teknis, dan pupuk kandang.
              Pada pelaksanaan praktikum ini mula-mula disiapkan polibag yang diisi tanah sebanyak 3 kg. Kerikil, sisa-sisa tanaman, dan sampah-sampah yang terdapat pada tanah didalam polibag dibersihkan terlebih dahulu agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Kemudian, dipilih biji yang sehat dari masing-masing biji yang akan ditanam, selanjutnya lima biji benih ditanam di dalam polibag, masing – masing biji di dalam polibag disiram setiap setiap hari dengan menggunakan air biasa. Setelah berumur satu minggu, bibit dijarangkan menjadi dua tanaman per polibag dengan dipilih bibit yang yang sehat. Lalu, larutan NaCl dibuat dengan konsentrasi 2500 ppm dan 5000 ppm, untuk perlakuan 0 ppm penyiraman digunakan dengan air biasa. Setiap polibag diberi label sesuai dengan perlakuan dan ulangannya.Penyiram dilakukan sebanyak 7 kali dengan selang waktu dua hari sekali, dan pada seling hari diantaranya tanaman disiram dengan air biasa hingga tanaman berumur 21 hari. Pengamatan Tinggi Tanaman (TT) dan Jumlah Daun (JD) dilakukan setiap penyiraman tanaman dengan larutan garam. Setelah 21 hari tanaman dipanen dan diamati Panjang Akar (PA), Bobot Segar(BS), dan Bobot Kering (BK) tanaman. Pada akhir percobaan dari seluruh data yang terkumpul, dihitung rerata tiga ulangan pada setiap perlakuan yang selanjutnya dibuat grafik TT dan JD vs hari pengamatan dan histogram BS, BK, dan panjang akar tanaman vs hari pengamatan untuk masing – masing tanaman.




IV.      HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Tinggi Tanaman Kacang Tunggak
Konsentrasi
Tinggi Tanaman Pada Hari Ke -
1
2
3
4
5
6
7
0 ppm
13,65
15,38
17,15
18,15
19,25
20,11
21,50
2500 ppm
13,94
16,25
17,46
18,46
18,82
20,58
21,38
5000 ppm
15,80
16,98
17,97
18,43
19,35
21,08
22,74

Tabel 4.2 Jumlah Daun Kacang tunggak
Konsentrasi
Jumlah Daun Pada Hari Ke
1
2
3
4
5
6
7
0 ppm
1,83
2,67
2,75
3,08
3,58
4,08
4,83
2500 ppm
1,83
2,58
2,67
3,00
3,83
3,92
4,42
5000 ppm
1,67
2,67
2,83
3,08
3,58
4,00
4,33

              Tabel 4.3 Panjang Akar, Berat Segar dan Berat Kering
Konsentrasi
Panjang akar (PA)
Bobot Segar (BS)
Bobot Kering (BK)
0 ppm
20,69
5,99
0,73
2500 ppm
18,42
5,78
0,65
5000 ppm
14,06
5,43
0,50






B.     Pembahasan
              Pada praktikum Dasar-dasar Ekologi acara I dilakukan percobaan salinitas sebagai faktor pembatas abiotik terhadap berbagai tanaman, yaitu padi (Oryza sativa), kacang tunggak (Vigna sinensis) dan timun (Cucumis melo L.). Setelah dilakukan pengamatan selama 21 hari mulai dari pembibitan sampai panen, maka di daptkan hasil berupa tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, obot segar, dan bobot kering dari ketiga tanaman tersebut.
            Setiap pertumbuhan pada tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah salinitas pada suatu tempat. Salinitas merupakan kandungan garam yang tedapat di dalam tanah. Garam dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman akan memberikan manfaat untuk pertumbuhan tanaman, karena garam-garam yang terlarut di dalam tanah merupakan faktor esensial bagi tanaman selain kandungan zat-zat hara. Kadar garam yang tinggi akan berdampak terjadinya keracunan pada tanaman. Kandungan garam yang terlalu banyak akn menghambat perkecambahan benih, kualitas hasil produksi, dan merusak jaringan tanaman. Tanaman yang mampu beradaptasi pada daerah salinitas dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu :
1.      Kelompok tanaman halofit, merupakan tanaman yang toleran terhadap kadar salinitas. Cntohnya adalah padi dan palawija.
2.      Kelompok tanaman glikofit, merupakan tanaman yang rentan terhadap salinitas. Contohnya adalah timun-timunan.
3.      Kelompok Tanaman euhalofit, merupakan tanaman yang tahan terhadap salinitas. Contohnya adalah tumbuhan bakau, dan mangrove.
      Perkembangan tanaman selama pengamatan berupa tinggi tanaman, jumlah daun dapat dilihat pada grafik sebagai berikut.





1.      Tinggi Tanaman
           
Gambar 1.1 Grafik Tinggi Tanaman Kacang Tunggak Selama Tujuh Hari
            Dari grafik di atas dapat diketahui  bahwa tinggi tanaman kacang tunggak antara perlakuan 0 ppm, 2500 ppm, dan 5000 ppm mengalami selisih yang sedikit. Hal ini membukikan bahwa tanaman kacang tunggak merupakan tanaman yang tahan terhadap keadaan salin (Euhalofit). Tanaman kacang tunggak yang paling tinggi adalah pada saat perlakuan salinitas 5000 ppm. Jika disimulasikan, walaupun kacang tunggak merupakan tanaman yang euhalofit,kacang tunggak tumbuh normal hampir sama seperti tanaman yang  tumbuh di kadar salinitas yang netral. Seperti grafik di atas, pertumbuhan tinggi kacang tunggak hampir sama dengan tumbuhan yang seperlakuannya selama 7 hari.







2.      Jumlah Daun
           
            Gambar 1.2 Grafik Jumlah Daun Kacang Tunggak
            Seperti yang dketahui sebelumnya, kacang tunggak merupakan tanaman yang masuk ke dalam kelompok Euhalofit, dimana tanaman ini tahan terhadap keadaan salinitas. Pada grafik ini ditunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah daun dari hari ke hari selalu mengalami kenaikkan di semua perlakuan. Pada perlakuan 0 ppm, 2500 ppm, dan 5000 ppm pertumbuhan daun yang dialami kacang tunggak hampir semuanya sama yaitu selalu mengalami peningkatan, selama pengamatan berlangsung selama 7 hari.
3.      Panjang akar
           
            Gambar 1.4 Histogram Panjang Akar Kacang Tunggak

            Pada histogram di atas ditunjukkan bahwa pada panjang akar tanaman kacang tunggak dengan perlakuan 0 ppm merupakan panjang akar yang terpanjang, sedangkan pada perlakuan salinitas 5000 ppm merupakan panjang akar yang lebih pendek jika dibandingkaan dengan perlakuan yang 0 ppm dan 2500 ppm. Hal itu dikarenakan akar menghindari untuk mengambil air dengan kadar garam yang tinggi. Jika akar terus memanjang dan mengambil air dengan kadar garam yang tinggi secara terus menerus, maka tanaman kacang tunggak tersebut akan mengalami titik kelayuan yang permanen dan pada akhirnya tanaman ini akan mati. Walaupun akar kacang tunggak pada perlakuan 0 ppm, 2500 ppm dan 5000 ppm mengalami perbedaan panjang, tetapi ketiganya memiliki peningkatan yang selaras untuk penambahan panjang akarnya setiap dilakukan pengamatan. Seperti yang telah dijelaskan pada grafik tinggi akar dan jumlah daun, tanaman kacang tunggak merupakan tanaman euhalofit, oleh sebab itu tanaman ini akan dapat tumbuh dengan keadaan yang memiliki kadar garam tinggi  karena merupakan tanaman yang tahan terhadap salinitas.

4.      Bobot Segar Dan Bobot Kering
           
            Gambar 1.3 Histogram Bobot Segar dan Bobot Kering Kacang Tunggak
            Pada histogram ini akan membahas tentang bobot segar dan bobot kering tanaman kacang tunggak yang telah dipanen setelah 21 hari. Histogram ini menunjukkan bahwa untuk bobot segar tanaman kacang tunggak pada perlakuan 0 ppm, 2500 ppm, dan 5000 ppm memiliki selisih yang tidak jauh berbeda. bobot segar yang nilainya paling rendah terjadi pada kacang tunggak dengan perlakuan 5000 ppm. Hal ini dikarenakan kacang tunggak hidup di daerah yang memiliki kadar salinitas yang tinggi, sehingga tanaman kurang optimal dalam menyerap air jika dibandingkan dengan kacang tunggak pada perlakuan 0 ppm. Pada dasarnya kacang tunggak merupakan tanaman yang tumbuh di daerah yang kadar salin rendah. tetapi jika ditanamn di daerah yang memiliki kandungan salinitas tinggi, tanaman ini akan tahan dan tumbuh, tetapi tidak tumbuh dengan optimal seperti tumbuh di habitat aslinya. Jika tanaman menyerap terlalu banyak air yang memiliki kandungan garam yang tinggi secara terus-menerus, maka tanaman ini akan mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan daun. Bobot kering tanaman kacang tunggak dengan perlakuan 0 ppm, 2500 ppm, dan 5000 ppm, bobotnya mengalami selisih yang tidak terlalu tinggi. Jika dilihat dari histogram di atas, perbandingan antara bobot segar dan bobot kering mengalami selisih yang sangat jauh, hal tersebut dikarenakan bobot segar merupakan berat pada saat tanaman sebelum di keringkan (oven), sehingga kandungan airnya masih banyak. sedangkan bobot kering merupakan berat tanaman pada saat sudah dikeringkan (oven), sehingga tidak ada lagi kandungan air di dalam tubuh tumbuhan yang mengakibatkan berat tanaman tersebut menjadi jauh lebih ringan.










KESIMPULAN

1.      Salinitas merupakan salah satu pembatas faktor abiotik yang berupa kadar garam tinggi pada lingkungan. Akibat dari salinitas bagi tanaman, yaitu pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar)
2.      terdapat tiga pengelompokan tanaman berdasarkan salinitasnya, yaitu halofit mrupakan tanaman yang toleran terhadap keadaan salin, glikofit merupakan tanaman yang rentan terhadap keadaan salinitas, dan euhalofit merupakan tanaman yang tahan terhadap keadaan salinitas.
3.      Tanaman kacang tunggak merupakan tanaman yang bersifat euhalofit, sehingga pertumbuhan tanaman ini tidak terlalu terpengaruh oleh salinitas.

           














DAFTAR PUSTAKA

Begum, F.I., M. Ahmad, A.Nessa and W. Sulthana.2010. The effect of salinity n seed quality
            of wheat. Journal Bangladesh Agril. University 8:19-22.

Grattan, S.R. 2005. Irrigation water salinityand crop production. ANR Publication 8066. University of California Agriculture and Natural Resources in Parthnership with       Natural Resources Convention Servis.

Jamil, M. 2006. Effect of salt stress on germination and eraly sedding growth of four        vegetable species. Journal Central Europe Agriculture 7:273-283.

Kurniasih, B.D., Indiadewa dan Melasari.2004. Hasil dan sifat varetas perakaran padi gogo          pada beberapa tingkat salinitas. Jurnal Ilmu Pertanian 9: 1-10

Novizan. 2002. Petunjuk Pemupukan yang Objektif. Agromedia Pustaka, Jakarta. hal 144.

Shannon, M.C.1999. Salinity and holticulture. An Iternationala Journal. The International             Society For Holticulture Science 78: 1-4.

Suwignyo, R.A., Hayati, R dan Mardiyanto. 2010. Toleransi tanaman jagung terhadap      salinitas dengan perlakuan stress awal rendah. Jurnal Agri Vigor 10(1): 78-83.

Syakir, Maslahah, N dan Januarti, M. 2008. Pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan        produksi dan mutu sambiloto. Jurnal.Bul. Littro 19: 129-137.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar