LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM
DASAR-DASAR EKOLOGI
ACARA I
SALINITAS SEBAGAI
FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK

Disusun
oleh:
Nama : Suci Febryani
NIM : 13/346040/PN/13140
Golongan/kelompok : A1/1
Asisten : Ahmad Khoirudin Asrifi
M.R Ali
Fikri
Seilana
Kusumawati
LABORATORIUM
EKOLOGI TANAMAN
JURUSAN BUDIDAYA
PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
ACARA I
SALINITAS
SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK
I.
TUJUAN
1.
Mengetahui dampak salinitas terhadap
pertumbuhan tanaman
2.
Mengetahui tanggapan beberapa macam
tanaman terhadap tingkat salinitas yang berbeda.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
Menurut syakir et al., (2008), salinitas merupakan
suatu keadaan dimana garam dapat larut dalam jumlah yang srdikit ataupun dalam
jumlah yang banyak. Jika garam yang larut terlalu banyak, akan berakibat buruk
bagi pertumbuhan tanaman. Selain natrium klorida ( garam ) yang dibutuhkan
tanaman, tanaman juga membutuhhkan asupan zat-zat lain seperti sulfur,
bikarbonat dari natrium, magnesium, yang mana zat-zat tersebut memiliki efek
yang berbeda-beda terhadap pertumbuhan tanaman. Tanaman membutuhkan garam dapur
( NaCl ) untuk menggantikan sebahagian kalium yang dibutuhkan tanaman untuk
pertumbuhan maksimum, karena garam tersebut merupakan senyawa yang mengandung
unsur natrium yang menrupakan unsur hara mikro esensial bagi tanaman.
Selain berpengaruh kepada
pertumbuhantanaman secara keseluruhan, garam juga berpengaruh kepada kandungn
klorofil pada daun tanaman. Klorofil diserap oleh tanman dalam bentuk Cl- dimana Cl- tersebut
merupakan unsur hara mikro yang dibutuhkan oleh tanaman dalam proses
fotosintesis. Zat garam tersebut masuk ke dalam daun melalui proses osmosis,
dimana zat garam tersebut masuk ke dalam sel tanaman karena adanya tekanan dari
dalam tanah yang mengakibatkan zat garam masuk ke sel tanaman melalui perakaran
tanaman tersebut (Novizan,2002). Hal tersebut dibuktikan oleh Syakrir et al., (2002) daun tanaman kacang Pissum sativum.L menjadi menggulung dan berwarna kuning karena kadar salinitas
yang tinggi. Salinitas juga mempengaruhi terhadap peningkatan kadar NaCl dalam
tanah di sekitar tumbuhnya kacang tersebut, serta bertambahnya sintesa protein
di dalam jaringan tanaman kacang tersebut.
Tanaman yang tumbuh pada daerah
yang memiliki kadar salinitas yang tinggi, bisa menyebabkan efek beracun pada
metabolisme tanaman tersebut. Pada tanaman jagung, padi dan gandum lebih
sensitisf terhadap salinitas selama perkecambahan benih (James et al., 1983 cit. Begum et al., 2010
). Apabila salinitas pada suatu tempat terlalu tinggi, maka tanaman yang hidup
akan mengalami keracunan tumbuhan, jika salinitas pada suatu tempat terlalu
rendah, maka tanaman yang hidup di tempat tersebut akan mengalami hambatan
untuk tumbuh. Tetapi jika pemberian kadar garam ke tanaman sesuai dengan dengan
kebutuhan tanaman, maka akan menghasilkan produksi yang banyak dan memiliki
luas permukaan daun yang normal (Kurniasih
et al., 2004 ).
Kekeringan dan salinitas merupakan
faktor pembatas utama yang dapat mengurangi produktifitas suatu tanaman.
Salinitas juga dapat menghambat perkecambahan, mengurangi pertumbuhan tunas,
memperlambat perkembangan tanaman, dan mengurangi hasil penen. Tanaman yang
tumbuh pada daerah dengan tingkat
salinitas yang tinggi memiliki komposisi ion dengan konsentrasi yang cendrung
berbeda-beda. Perbedaan konsentrasi tersebut disebabkan oeh beberapa faktor
seperti sumber air, drinose, evaporasi, transpirasi, dan juga kemampuan
pengendapan pada tanah ( Jamil, 2006 ). Adapun faktor-faktor yang
memicuterjadinya salinitas adalah tingginya kadar garam dalam air, iklim yang
mendukung akumulasi, kegiatan manusia seperti pembakaran hutan dan lahan,
kondisi jlan yang ditutupi oleh es, lanskap fitur yang memungkinkan untuk
menjadi garam. Salinitas biasanya terjdi pada daerah pinggiran laut atau
pesisisr pantai, yaitu pada lahan rawa pasang srut ( Suwignyo, 2003).
Peningkatan permukaan air laut akan menyebabkan terjadinya peningkatan
salinitas air air yang kemudian berpengaruh kepada sistem pola tanaman di
daerah tersebut. Akumulasi garam dapat terjadi karena adanya pergerakan dan
penguapan air dari permukaan tanah, sehingga garam tertinggal di tanah kerena
adanya proses evaporasi (Gratton, 2005).
III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Praktikum Dasar – Dasar
Ekologi acara I yang berjudul Salinitas sebagai Faktor Peembatas Abiotik
dilaksanakan di Laboratorium Ekolologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian,
Universitas Gadjah Mada dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Gadjah
Mada. Praktikum ini dilaksanakan pada Hari Senin, 9 Maret 2014. Alat – alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah timbangan analitik, gelas ukur, erlenmmeyer, alat
pengaduk, peralatan tanam, penggaris, kertas label, polibag dan bahan-bahan yang digunakan adalah
benih tanam yaitu padi ( Oryza sativa
), kacang tunggak ( Vigna sinensis ),
timun ( Cucumis melo L.), NaCl
teknis, dan pupuk kandang.
Pada pelaksanaan praktikum ini
mula-mula disiapkan polibag yang diisi tanah sebanyak 3 kg. Kerikil, sisa-sisa
tanaman, dan sampah-sampah yang terdapat pada tanah didalam polibag dibersihkan
terlebih dahulu agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Kemudian, dipilih
biji yang sehat dari masing-masing biji yang akan ditanam, selanjutnya lima
biji benih ditanam di dalam polibag, masing – masing biji di dalam polibag
disiram setiap setiap hari dengan menggunakan air biasa. Setelah berumur satu
minggu, bibit dijarangkan menjadi dua tanaman per polibag dengan dipilih bibit
yang yang sehat. Lalu, larutan NaCl dibuat dengan konsentrasi 2500 ppm dan 5000
ppm, untuk perlakuan 0 ppm penyiraman digunakan dengan air biasa. Setiap
polibag diberi label sesuai dengan perlakuan dan ulangannya.Penyiram dilakukan
sebanyak 7 kali dengan selang waktu dua hari sekali, dan pada seling hari diantaranya
tanaman disiram dengan air biasa hingga tanaman berumur 21 hari. Pengamatan
Tinggi Tanaman (TT) dan Jumlah Daun (JD) dilakukan setiap penyiraman tanaman
dengan larutan garam. Setelah 21 hari tanaman dipanen dan diamati Panjang Akar
(PA), Bobot Segar(BS), dan Bobot Kering (BK) tanaman. Pada akhir percobaan dari
seluruh data yang terkumpul, dihitung rerata tiga ulangan pada setiap perlakuan
yang selanjutnya dibuat grafik TT dan JD vs hari pengamatan dan histogram BS,
BK, dan panjang akar tanaman vs hari pengamatan untuk masing – masing tanaman.
IV.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Pengamatan
Tabel
4.1 Tinggi Tanaman Kacang Tunggak
|
Konsentrasi
|
Tinggi Tanaman Pada Hari Ke -
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|
|
0 ppm
|
13,65
|
15,38
|
17,15
|
18,15
|
19,25
|
20,11
|
21,50
|
|
2500 ppm
|
13,94
|
16,25
|
17,46
|
18,46
|
18,82
|
20,58
|
21,38
|
|
5000 ppm
|
15,80
|
16,98
|
17,97
|
18,43
|
19,35
|
21,08
|
22,74
|
Tabel
4.2 Jumlah Daun Kacang tunggak
|
Konsentrasi
|
Jumlah Daun Pada Hari Ke
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|
|
0 ppm
|
1,83
|
2,67
|
2,75
|
3,08
|
3,58
|
4,08
|
4,83
|
|
2500 ppm
|
1,83
|
2,58
|
2,67
|
3,00
|
3,83
|
3,92
|
4,42
|
|
5000 ppm
|
1,67
|
2,67
|
2,83
|
3,08
|
3,58
|
4,00
|
4,33
|
Tabel 4.3 Panjang Akar, Berat
Segar dan Berat Kering
|
Konsentrasi
|
Panjang
akar (PA)
|
Bobot
Segar (BS)
|
Bobot
Kering (BK)
|
|
0
ppm
|
20,69
|
5,99
|
0,73
|
|
2500
ppm
|
18,42
|
5,78
|
0,65
|
|
5000
ppm
|
14,06
|
5,43
|
0,50
|
B.
Pembahasan
Pada
praktikum Dasar-dasar Ekologi acara I dilakukan percobaan salinitas sebagai
faktor pembatas abiotik terhadap berbagai tanaman, yaitu padi (Oryza sativa), kacang tunggak (Vigna sinensis) dan timun (Cucumis melo L.). Setelah dilakukan
pengamatan selama 21 hari mulai dari pembibitan sampai panen, maka di daptkan
hasil berupa tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, obot segar, dan bobot
kering dari ketiga tanaman tersebut.
Setiap pertumbuhan pada
tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor, dan salah satu faktor yang
mempengaruhinya adalah salinitas pada suatu tempat. Salinitas merupakan kandungan
garam yang tedapat di dalam tanah. Garam dalam jumlah yang sesuai dengan
kebutuhan tanaman akan memberikan manfaat untuk pertumbuhan tanaman, karena
garam-garam yang terlarut di dalam tanah merupakan faktor esensial bagi tanaman
selain kandungan zat-zat hara. Kadar garam yang tinggi akan berdampak
terjadinya keracunan pada tanaman. Kandungan garam yang terlalu banyak akn menghambat
perkecambahan benih, kualitas hasil produksi, dan merusak jaringan tanaman.
Tanaman yang mampu beradaptasi pada daerah salinitas dapat dibagi menjadi
beberapa kelompok yaitu :
1.
Kelompok tanaman halofit, merupakan
tanaman yang toleran terhadap kadar salinitas. Cntohnya adalah padi dan
palawija.
2.
Kelompok tanaman glikofit, merupakan
tanaman yang rentan terhadap salinitas. Contohnya adalah timun-timunan.
3.
Kelompok Tanaman euhalofit, merupakan
tanaman yang tahan terhadap salinitas. Contohnya adalah tumbuhan bakau, dan
mangrove.
Perkembangan tanaman selama pengamatan
berupa tinggi tanaman, jumlah daun dapat dilihat pada grafik sebagai berikut.
1. Tinggi Tanaman
Gambar 1.1 Grafik Tinggi Tanaman
Kacang Tunggak Selama Tujuh Hari
Dari
grafik di atas dapat diketahui bahwa
tinggi tanaman kacang tunggak antara perlakuan 0 ppm, 2500 ppm, dan 5000 ppm
mengalami selisih yang sedikit. Hal ini membukikan bahwa tanaman kacang tunggak
merupakan tanaman yang tahan terhadap keadaan salin (Euhalofit). Tanaman kacang tunggak yang paling tinggi adalah pada
saat perlakuan salinitas 5000 ppm. Jika disimulasikan, walaupun kacang tunggak
merupakan tanaman yang euhalofit,kacang tunggak tumbuh normal hampir sama
seperti tanaman yang tumbuh di kadar
salinitas yang netral. Seperti grafik di atas, pertumbuhan tinggi kacang
tunggak hampir sama dengan tumbuhan yang seperlakuannya selama 7 hari.
2. Jumlah Daun
Gambar 1.2 Grafik Jumlah Daun Kacang
Tunggak
Seperti yang
dketahui sebelumnya, kacang tunggak merupakan tanaman yang masuk ke dalam
kelompok Euhalofit, dimana tanaman ini tahan terhadap keadaan salinitas. Pada
grafik ini ditunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah daun dari hari ke hari selalu
mengalami kenaikkan di semua perlakuan. Pada perlakuan 0 ppm, 2500 ppm, dan
5000 ppm pertumbuhan daun yang dialami kacang tunggak hampir semuanya sama
yaitu selalu mengalami peningkatan, selama pengamatan berlangsung selama 7
hari.
3. Panjang akar
Gambar 1.4 Histogram Panjang Akar
Kacang Tunggak
Pada
histogram di atas ditunjukkan bahwa pada panjang akar tanaman kacang tunggak
dengan perlakuan 0 ppm merupakan panjang akar yang terpanjang, sedangkan pada
perlakuan salinitas 5000 ppm merupakan panjang akar yang lebih pendek jika
dibandingkaan dengan perlakuan yang 0 ppm dan 2500 ppm. Hal itu dikarenakan
akar menghindari untuk mengambil air dengan kadar garam yang tinggi. Jika akar
terus memanjang dan mengambil air dengan kadar garam yang tinggi secara terus
menerus, maka tanaman kacang tunggak tersebut akan mengalami titik kelayuan
yang permanen dan pada akhirnya tanaman ini akan mati. Walaupun akar kacang
tunggak pada perlakuan 0 ppm, 2500 ppm dan 5000 ppm mengalami perbedaan
panjang, tetapi ketiganya memiliki peningkatan yang selaras untuk penambahan
panjang akarnya setiap dilakukan pengamatan. Seperti yang telah dijelaskan pada
grafik tinggi akar dan jumlah daun, tanaman kacang tunggak merupakan tanaman
euhalofit, oleh sebab itu tanaman ini akan dapat tumbuh dengan keadaan yang
memiliki kadar garam tinggi karena
merupakan tanaman yang tahan terhadap salinitas.
4. Bobot Segar Dan Bobot Kering
Gambar 1.3 Histogram Bobot Segar dan
Bobot Kering Kacang Tunggak
Pada
histogram ini akan membahas tentang bobot segar dan bobot kering tanaman kacang
tunggak yang telah dipanen setelah 21 hari. Histogram ini menunjukkan bahwa
untuk bobot segar tanaman kacang tunggak pada perlakuan 0 ppm, 2500 ppm, dan
5000 ppm memiliki selisih yang tidak jauh berbeda. bobot segar yang nilainya
paling rendah terjadi pada kacang tunggak dengan perlakuan 5000 ppm. Hal ini
dikarenakan kacang tunggak hidup di daerah yang memiliki kadar salinitas yang
tinggi, sehingga tanaman kurang optimal dalam menyerap air jika dibandingkan
dengan kacang tunggak pada perlakuan 0 ppm. Pada dasarnya kacang tunggak
merupakan tanaman yang tumbuh di daerah yang kadar salin rendah. tetapi jika
ditanamn di daerah yang memiliki kandungan salinitas tinggi, tanaman ini akan
tahan dan tumbuh, tetapi tidak tumbuh dengan optimal seperti tumbuh di habitat
aslinya. Jika tanaman menyerap terlalu banyak air yang memiliki kandungan garam
yang tinggi secara terus-menerus, maka tanaman ini akan mengalami hambatan
pertumbuhan dan perkembangan daun. Bobot kering tanaman kacang tunggak dengan
perlakuan 0 ppm, 2500 ppm, dan 5000 ppm, bobotnya mengalami selisih yang tidak
terlalu tinggi. Jika dilihat dari histogram di atas, perbandingan antara bobot
segar dan bobot kering mengalami selisih yang sangat jauh, hal tersebut
dikarenakan bobot segar merupakan berat pada saat tanaman sebelum di keringkan
(oven), sehingga kandungan airnya masih banyak. sedangkan bobot kering
merupakan berat tanaman pada saat sudah dikeringkan (oven), sehingga tidak ada
lagi kandungan air di dalam tubuh tumbuhan yang mengakibatkan berat tanaman
tersebut menjadi jauh lebih ringan.
KESIMPULAN
1.
Salinitas merupakan salah satu pembatas
faktor abiotik yang berupa kadar garam tinggi pada lingkungan. Akibat dari
salinitas bagi tanaman, yaitu pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun,
dan panjang akar)
2.
terdapat tiga pengelompokan tanaman
berdasarkan salinitasnya, yaitu halofit mrupakan tanaman yang toleran terhadap
keadaan salin, glikofit merupakan tanaman yang rentan terhadap keadaan
salinitas, dan euhalofit merupakan tanaman yang tahan terhadap keadaan
salinitas.
3.
Tanaman kacang tunggak merupakan tanaman
yang bersifat euhalofit, sehingga pertumbuhan tanaman ini tidak terlalu
terpengaruh oleh salinitas.
DAFTAR PUSTAKA
Begum, F.I., M. Ahmad,
A.Nessa and W. Sulthana.2010. The effect of salinity n seed quality
of wheat. Journal Bangladesh Agril. University 8:19-22.
Grattan, S.R. 2005.
Irrigation water salinityand crop production. ANR Publication 8066. University of California Agriculture and
Natural Resources in Parthnership with Natural
Resources Convention Servis.
Jamil, M. 2006. Effect
of salt stress on germination and eraly sedding growth of four vegetable species. Journal Central Europe
Agriculture 7:273-283.
Kurniasih, B.D.,
Indiadewa dan Melasari.2004. Hasil dan sifat varetas perakaran padi gogo pada beberapa tingkat salinitas. Jurnal
Ilmu Pertanian 9: 1-10
Novizan. 2002. Petunjuk
Pemupukan yang Objektif. Agromedia Pustaka, Jakarta. hal 144.
Shannon, M.C.1999.
Salinity and holticulture. An Iternationala Journal. The International Society For Holticulture Science 78:
1-4.
Suwignyo, R.A., Hayati,
R dan Mardiyanto. 2010. Toleransi tanaman jagung terhadap salinitas dengan perlakuan stress awal
rendah. Jurnal Agri Vigor 10(1): 78-83.
Syakir, Maslahah, N dan
Januarti, M. 2008. Pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan produksi dan mutu sambiloto. Jurnal.Bul.
Littro 19: 129-137.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar